Turi turi putih dhitandur ning pinggir sumur
Jeleret tiba nyemplung ke kembang kembange apa
Mbok kira mbok kira mbok kira kembange apa
Kembang kembang m'lathi kembang m'lathi dironce-ronce
Kembang kembang m'lathi kembang m'lathi dironce-ronce
Sing kene setengah mati sing kana 'ra piye piye
Mbok kira mbok kira mbok kira kembange apa
Kisah Lagu Daerah 'Turi-turi Putih'
Lagu Turi-Turi Putih merupakan tembang daerah dari Jawa Tengah ciptaan Sunan Giri yang mengandung pesan spiritual. Lagu ini menjadi pengingat bahwa kematian bisa datang kapan saja. Selain itu, tembang ini juga mengajarkan manusia untuk berserah diri kepada Tuhan serta menekankan pentingnya memperbanyak amal saleh selama hidup.
Kata “turi” berasal dari istilah “mituturi” yang berarti memberi nasihat atau peringatan, sedangkan “putih” melambangkan kain kafan atau pocong. Lewat simbol tersebut, lagu ini menyampaikan pesan bahwa setiap manusia pada akhirnya akan meninggal dan dibungkus kain putih. Lirik “Ditandur neng kebon agung” menggambarkan kehidupan manusia di dunia sebagai tempat menanam amal kebaikan, sementara “kebon agung” dimaknai sebagai dunia tempat manusia menjalani kehidupannya.
Bagian lirik “Kembange apa” yang berarti “bunganya apa” mengandung makna introspeksi diri mengenai amal selama hidup. Lagu ini menegaskan bahwa harta, kedudukan, maupun keluarga tidak akan dibawa setelah meninggal, melainkan hanya amal baik yang akan menjadi bekal. Selain memiliki nilai religius yang tinggi, lagu Turi-Turi Putih juga merupakan salah satu media dakwah para Walisongo yang disampaikan melalui seni dan budaya Jawa.