Melalui jendela ini, aku melihat visiku sangat jelas.
It won't be long now.
Tidak akan lama lagi.
Never tainted.
Tak pernah ternoda.
It won't be long now.
Tidak akan lama lagi.
Always crystal.
Selalu jernih.
The darkest night.
Malam terkelam.
I used to feel alive.
Dulu aku merasa hidup.
Could we believe it?
Bisakah kita percaya?
Could they believe it?
Bisakah mereka percaya?
I could feel the twisting in the wells of my inner self.
Aku bisa merasakan perputaran di kedalaman jiwaku.
Could we believe it?
Bisakah kita percaya?
Could I believe it?
Bisakah aku percaya?
(spoken)
(diucapkan)
If seeing is believing, then this heart has never been beating.
Jika melihat adalah percaya, maka hati ini tak pernah berdenyut.
You should have let me live at least for one more day.
Seharusnya kau biarkan aku hidup setidaknya satu hari lagi.
Instead the silence takes me in vain.
Sebaliknya, keheningan ini menghabiskan waktuku sia-sia.
Everything you choose to say.
Segala yang kau pilih untuk katakan.
Your piercing gaze.
Tatapanmu yang menusuk.
It rips my soul away.
Itu merobek jiwaku.
You should have let me live in vain.
Seharusnya kau biarkan aku hidup sia-sia.
Just stare and wonder when I'm gone.
Cukup tatap dan renungkan saat aku pergi.
Just stare and wonder why...
Cukup tatap dan renungkan mengapa...
You should let me live.
Seharusnya kau biarkan aku hidup.
It won't be long now...never tainted always crystal...
Tidak akan lama lagi...tak pernah ternoda selalu jernih...
Just stare and wonder when I'm gone.
Cukup tatap dan renungkan saat aku pergi.
Just stare and wonder why...
Cukup tatap dan renungkan mengapa...