Lirik ini terasa seperti sindiran keras dan satir gelap tentang kondisi sebuah negara yang digambarkan amburadul dari berbagai sisi. Kata 'sakau' dipakai berulang-ulang bukan cuma soal narkoba, tapi diperluas maknanya ke kecanduan kekuasaan, judi, sampai hal-hal absurd yang seolah menegaskan betapa rusaknya prioritas banyak orang. Pengulangan frasa 'Fufufafa Republik' terdengar seperti ejekan, seakan nama negara itu sendiri sudah berubah jadi lelucon karena isinya penuh kekacauan dan kebiasaan buruk yang dianggap wajar.
Di bagian selanjutnya, lirik ini menyoroti masalah sosial yang lebih dalam seperti stunting, kurang gizi, rendahnya kualitas pendidikan, sampai perilaku masyarakat yang digambarkan makin tidak sopan, sok tahu, dan arogan. Semua disampaikan dengan bahasa kasar dan hiperbolik, tapi justru di situ letak pesannya: ini teriakan frustrasi dan kemarahan terhadap sistem dan mentalitas yang dianggap gagal membentuk masyarakat yang sehat dan beradab. Secara keseluruhan, lagu ini bukan sekadar provokasi, tapi kritik pedas yang mengajak pendengarnya buat bercermin, meski caranya sengaja dibuat nyentil dan bikin nggak nyaman.