Bertanya-tanya bagaimana rasanya nanti,
I laid back and waited to see.
Aku bersantai dan menunggu untuk melihat.
The anxiety entered my ego,
Kecemasan masuk ke dalam egoku,
Making my existence hungry.
Membuat keberadaanku merasa lapar.
Crawling up with the faintness,
Merayap dengan rasa pusing,
A haunted voice questioned me.
Suara yang menghantui bertanya padaku.
If I felt the draining numbness,
Jika aku merasakan kebas yang menyedot energi,
That ruled my conscious fidelity.
Yang menguasai kesetiaan kesadaranku.
From the bonds of loneliness,
Dari ikatan kesepian,
That toxified my fantasies undone.
Yang meracuni fantasi-fantasi yang hancur.
My soul filtered the screams,
Jiwaku menyaring teriakan-teriakan,
That shot out from my tears & blood.
Yang meluncur keluar dari air mata dan darahku.
CHORUS:
Spare me from the hands of wrath.
Selamatkan aku dari tangan kemarahan.
Save me from the grip of guilt's hate.
Lepaskan aku dari cengkeraman kebencian rasa bersalah.
Look upon the light of my pleading,
Lihatlah cahaya permohonanku,
And lift me from the filth of fate.
Dan angkat aku dari kotoran takdir.
Isolating integrity,
Mengisolasi integritas,
Gaining the whiff of deceit.
Mendapatkan aroma penipuan.
My thought wanders off,
Pikiranku melayang,
Thinking what in me to beat.
Memikirkan apa yang harus kuhadapi dalam diriku.
My nerves thrust the reply.
Sarafku mendorong jawaban.
My body chokes suppression.
Tubuhku tercekik penekanan.
Thou's deed cannot be held,
Perbuatanmu tak bisa ditahan,
Into making a mere revelation.
Untuk membuat sebuah pengakuan belaka.
CHORUS
AFTERMATH:
What’re you gonna do?
Apa yang akan kau lakukan?
What’re you gonna do?
Apa yang akan kau lakukan?
What’re you gonna do?
Apa yang akan kau lakukan?
When it comes for you?
Saat saat itu datang padamu?