Aku lahir di Dixie di sebuah gubuk sederhana,
Just a little old shanty by a railroad track,
Hanya sebuah gubuk tua di pinggir rel kereta,
The hummin’ of the drivers was my lullaby,
Dengungan mesin kereta jadi lagu pengantar tidurku,
And a freight train whistle taught me how to cry.
Dan suara peluit kereta barang mengajarkanku cara menangis.
Chorus:
I’ve got the freight train blues, lordy, lordy, lordy,
Aku punya kerinduan kereta barang, ya ampun, ya ampun, ya ampun,
Got ’em in the bottom of my ramblin’ shoes,
Rasa ini ada di dasar sepatu petualangku,
And when that whistle blows, I’ve gotta go,
Dan saat peluit itu berbunyi, aku harus pergi,
oh! lordy! guess I’m never gonna lose,
oh! ya ampun! Sepertinya aku takkan pernah kalah,
The mean old freight train blues.
Kerinduan kereta barang yang kejam ini.
now my pappy was a fireman and my mammy dear,
Sekarang ayahku seorang pemadam api dan ibuku tercinta,
Was the only daughter of an engineer,
Adalah satu-satunya putri seorang insinyur,
My sister married a brakeman and it ain’t no joke,
Saudariku menikah dengan seorang penjaga rem dan ini bukan lelucon,
Now it’s a shame the way she keeps a good man broke.
Sekarang jadi memalukan cara dia membuat pria baik itu menderita.
Chorus:
I’ve got the freight train blues, lordy, lordy, lordy,
Aku punya kerinduan kereta barang, ya ampun, ya ampun, ya ampun,
Got ’em in the bottom of my ramblin’ shoes,
Rasa ini ada di dasar sepatu petualangku,
And when the whistle blows, I’ve gotta go,
Dan saat peluit itu berbunyi, aku harus pergi,
oh! lordy! guess I’m never gonna lose,
oh! ya ampun! Sepertinya aku takkan pernah kalah,
The mean old freight train blues.
Kerinduan kereta barang yang kejam ini.