mata birunya yang dingin memantulkan seperti statis di televisi yang rusak, hanya saja tanpa suara mendesis.
her blood red lips are cracked like the desert floor.
bibir merahnya retak seperti tanah gurun.
and she never gave me a chance to see her true colors...and now it's too late.
dan dia tidak pernah memberi saya kesempatan untuk melihat warna aslinya... dan sekarang sudah terlambat.
her love is priceless but her body's cheap. baby nothings free.
cintanya tak ternilai tapi tubuhnya murah. sayang, tidak ada yang gratis.
yea. yea.
iya. iya.
and through her open mouth screeches the sound of a dialtone that no one can hear.
dan dari mulutnya yang terbuka terdengar jeritan nada sambung yang tidak ada yang bisa mendengarnya.
so the phone stays off the hook and her glazed stare begins to slowly flicker out like another broken down street light in a run down neighborhood.
jadi telepon tetap tidak terhubung dan tatapannya yang kabur mulai perlahan memudar seperti lampu jalan yang rusak di lingkungan yang kumuh.
the dim light shines just bright enough to show a little more than the silhouette of a scantily clad whore.
cahaya redup bersinar cukup terang untuk menunjukkan lebih dari sekadar siluet pelacur yang berpakaian minim.
pounds of makeup and smeared mascara taint a once picture perfect beauty queen face.
Bertumpuk-tumpuk makeup dan maskara yang beleber mengotori wajahnya yang dulunya sempurna seperti ratu kecantikan.
she has the marks of a track star, but she never ran a race.
dia memiliki bekas-bekas seorang pelari, tapi dia tidak pernah mengikuti perlombaan.