dua tahun lebih beberapa hari, seblok dari sini dia akan nongkrong
same corner, neighborhood, his friends, the gang
di sudut yang sama, lingkungan yang sama, teman-temannya, gengnya
two years and extra days, a bigger kid would crack his eye
dua tahun lebih beberapa hari, seorang anak yang lebih besar akan melirik
no real reason, explanation and everyday no one knew why
tanpa alasan yang jelas, penjelasan, dan setiap hari tak ada yang tahu mengapa
the bigger kid was crazy, that made the gang afraid
anak yang lebih besar itu gila, itu membuat gengnya takut
when he told the gang to shut their mouths, the gang obeyed
ketika dia menyuruh gengnya untuk diam, geng itu menurut
you’ve got to have a place to be, you need a place to hang around
kamu harus punya tempat untuk bersantai, kamu butuh tempat untuk nongkrong
no one spoke, no one moved, no one made a sound
tak ada yang berbicara, tak ada yang bergerak, tak ada yang bersuara
both his eyes would twitch
kedua matanya berkedut
the left one was always black
yang kiri selalu terlihat hitam
his lips they never moved
bibirnya tak pernah bergerak
they stayed still with each attack
mereka tetap diam dengan setiap serangan
his ears were always ringing,
telinganya selalu berdenging,
in his head he’d hear a hum
di kepalanya dia mendengar dengungan
and all the kids on the corner
dan semua anak di sudut itu
knew what it was from
tahu dari mana asalnya
well then one day it happened, he took his daily crack
suatu hari itu terjadi, dia mengambil dosisnya sehari-hari
his eyes rolled up, like yesterday, he started falling back
matanya melotot, seperti kemarin, dia mulai terjatuh
the kids that watch this everyday, now watched him hit the ground
anak-anak yang menyaksikan ini setiap hari, kini melihatnya jatuh ke tanah
no one spoke, no one moved, no one made a sound
tak ada yang berbicara, tak ada yang bergerak, tak ada yang bersuara
and no one made a sound
dan tak ada yang bersuara
both his eyes would twitch
kedua matanya berkedut
the left one was always black
yang kiri selalu terlihat hitam
his lips they never moved
bibirnya tak pernah bergerak
they stayed still with each
mereka tetap diam dengan setiap
attack his ears were always ringing,
serangan, telinganya selalu berdenging,
in his head he’d hear a hum
di kepalanya dia mendengar dengungan
and all the kids on the corner
dan semua anak di sudut itu
knew what it was from
tahu dari mana asalnya
no one spoke, no one moved, no one made a sound
tak ada yang berbicara, tak ada yang bergerak, tak ada yang bersuara
a sad silent situation, now he’s not around
sebuah situasi hening yang menyedihkan, kini dia tak ada lagi
no one spoke, no one moved, no one made a sound
tak ada yang berbicara, tak ada yang bergerak, tak ada yang bersuara
a sad silent situation, now he’s not around
sebuah situasi hening yang menyedihkan, kini dia tak ada lagi
well no one spoke and no one moved and no one made a sound
baiklah, tak ada yang berbicara, tak ada yang bergerak, tak ada yang bersuara
a sad silent situation he’s not a-he’s not around
sebuah situasi hening yang menyedihkan, dia tak ada—dia tak ada lagi
no one spoke no one moved he’s not around
tak ada yang berbicara, tak ada yang bergerak, dia tak ada lagi
a sad silent situation now he’s not around
sebuah situasi hening yang menyedihkan, kini dia tak ada lagi