Jatuh benih di jalan dan burung memakannya.
Firman itu baik, benih kasih bagimu,
dan orang yang menolak binasa s’lamanya.
2. Di tempat berbatu benih tak berkembang.
Layu kekeringan, tiada akarnya.
Firman yang ditabur di hati yang bebal,
di dalam pencobaan tiada dayanya.
3. Di semak berduri terhimpit tumbuhnya.
Tak dapat berbuah, tiada gunanya.
Firman dalam hati tak ada buahnya,
oleh rasa kuatir dan nikmat dunia.
4. Dan benih ditabur di tanah yang gembur,
tumbuh dan berbunga, berganda buahnya.
Firman yang ditabur di hati yang gembur
pasti akan berbuah, berlimpah hasilnya.
Makna Lagu Adalah Seorang Menaburkan Benih
Lirik ini menggambarkan perumpamaan tentang penaburan benih sebagai gambaran bagaimana Firman Tuhan diterima dalam hati manusia. Benih yang jatuh di berbagai tempat melambangkan perbedaan respons manusia terhadap ajaran Tuhan.
Pada bagian pertama, benih yang jatuh di jalan dan dimakan burung menggambarkan hati yang menolak Firman Tuhan sejak awal. Firman tidak sempat berakar karena tidak diterima dengan sungguh-sungguh. Bagian kedua menunjukkan benih di tanah berbatu, yang tumbuh sebentar tetapi cepat layu karena tidak memiliki akar. Ini melambangkan iman yang dangkal dan mudah runtuh saat menghadapi kesulitan.
Bait ketiga menggambarkan benih yang terhimpit semak berduri, yaitu Firman Tuhan yang tidak dapat bertumbuh karena terganggu oleh kekhawatiran dan godaan dunia. Sebaliknya, bait terakhir menunjukkan benih yang jatuh di tanah subur, yang tumbuh dan menghasilkan banyak buah. Ini melambangkan hati yang terbuka, menerima Firman Tuhan dengan sungguh-sungguh, dan menghasilkan perubahan hidup yang nyata.
Secara keseluruhan, lirik ini mengajarkan bahwa respons hati manusia terhadap Firman Tuhan menentukan pertumbuhan iman. Hati yang terbuka, tekun, dan tidak dikuasai kekhawatiran akan menghasilkan kehidupan yang berbuah dan membawa kebaikan.