'Ku tergerak hendak terbang terus ke puncak bukitmu,
diatas hutan rimba dan gunung dan lembah,
supaya aku tiba di negeri baka.
2. Bila kelak bersinar cahyamu, o hari cemerlang,
waktunyalah kus'rahkan nyawaku gembira dan senang
ke dalam tangan Bapa yang t'lah memilihnya dan
kuperoleh s'lamat di Sion s'lamanya.
3. Kota emas, gerbangmu bukalah, terima salamku!
Di dunia alangkah lamanya 'ku rindu padamu,
Tatkala aku susah di alam yang fana dan
kudambakan sorga pusaka yang baka.
4. O lihatlah kumpulan yang kudus, berlaksa banyaknya!
Jumlah besar yang sudah ditebus, pilihan mulia,
Telah diutus Tuhan menyambut diriku
Di saat 'ku berjuang di kancah kemelut.
5. Nabi besar, leluhur mulia, jemaat beriman, yang t'lah
pernah memikul salibnya, disiksa, ditekan, sekarang
aku lihat berwajah yang cerah di cahya yang gemilang
yang tiada habisnya.
6. Wahai Firdaus, nyanyianmu merdu dan warnamu segar,
udaramu dan tamanmu penuh bahagia benar.
Kemuliaan sorga t'lah masuk hatiku dan 'ku menyanyi
Juga menurut lagumu.
7. Madah besar gempita cemerlang di sana menggegap;
gambus, gendang, kecapi dan serdam membuatnya lengkap:
berlaksa-laksa lidah bersuara bergema di dalam gita indah di sorga s'lamanya.
Makna Lagu Yerusalem, Mulia dan Kudus
Lirik ini menggambarkan kerinduan mendalam akan surga, yang dilukiskan sebagai Yerusalem Baru — kota mulia dan kudus tempat umat Tuhan tinggal bersama-Nya untuk selama-lamanya. Lagu ini penuh nuansa pengharapan dan kerinduan rohani, seolah-olah jiwa orang percaya sedang mengarahkan pandangan melampaui dunia yang fana menuju kehidupan kekal yang penuh damai dan kemuliaan.
Pada bait-bait awal, dunia digambarkan sebagai tempat perjuangan, kesedihan, dan kefanaan, sedangkan surga menjadi tujuan akhir yang penuh terang dan keselamatan. Ada kerinduan untuk “terbang terus” menuju hadirat Tuhan, meninggalkan penderitaan dunia dan memperoleh damai abadi di “Sion” surgawi. Ini menunjukkan iman bahwa hidup manusia tidak berhenti di dunia, melainkan menuju persekutuan kekal bersama Allah.
Lagu ini juga melukiskan persekutuan orang-orang kudus di surga. Para nabi, leluhur iman, dan umat percaya yang telah setia memikul salib digambarkan kini hidup dalam cahaya kemuliaan Tuhan. Gambaran itu memberi penghiburan bahwa perjuangan dan penderitaan orang percaya di dunia tidak sia-sia, karena pada akhirnya ada kemenangan dan sukacita kekal.
Di bagian akhir, surga dilukiskan dengan sangat indah: kota emas, taman yang penuh kebahagiaan, dan nyanyian pujian yang tak berkesudahan. Musik, nyanyian, dan kemuliaan surgawi menggambarkan sukacita sempurna dalam hadirat Tuhan. Secara keseluruhan, lirik ini bernuansa agung, penuh harapan, dan membangkitkan kerinduan akan kehidupan kekal bersama Allah.