Tidak ada takdir tunggal, generasi yang hancur.
Once guide by hope, now fallen into despair.
Dulu dipandu oleh harapan, kini terjatuh dalam keputusasaan.
The chosen few play their game.
Segelintir orang terpilih bermain permainan mereka.
A man, his hands want to grasp, but they don't need him anymore.
Seorang pria, tangannya ingin meraih, tapi mereka tidak membutuhkannya lagi.
His eyes without light, his walk weak and still.
Matanya tanpa cahaya, langkahnya lemah dan terhenti.
He lost all pride already years ago.
Ia telah kehilangan semua harga diri bertahun-tahun yang lalu.
Sleeplessness every night - Thought of regret.
Tak bisa tidur setiap malam - Pikiran penuh penyesalan.
He knows there will be a tomorrow, but why wake up again.
Ia tahu akan ada hari esok, tapi untuk apa bangun lagi.
All he wanted was freedom, the hope to perhaps fulfill some dreams.
Yang ia inginkan hanyalah kebebasan, harapan untuk mungkin mewujudkan beberapa mimpi.
A better life for his children, a little piece from the sky...
Hidup yang lebih baik untuk anak-anaknya, sedikit kebahagiaan dari langit...
But fate betrayed him again. Family and friendship,
Tapi takdir kembali mengkhianatinya. Keluarga dan persahabatan,
the only things he never had
satu-satunya hal yang tidak pernah ia miliki
Destroyed by consumption, replaced by egoism and greed, just shame remains.
Hancur oleh konsumsi, digantikan oleh egoisme dan keserakahan, hanya rasa malu yang tersisa.
From the very beginning he had no role in the game.
Sejak awal ia tak punya peran dalam permainan ini.
Given up, driven to alcohol, to forget about everything.
Menyerah, terjerumus pada alkohol, untuk melupakan segalanya.
The hope of a revolutioner died, silent, slowly and forever.
Harapan seorang revolusioner mati, diam, perlahan, dan selamanya.