Nafasku terengah di tengah bising kepala
Berjalan tak pernah mudah, ini semakin gelap
Dan tak satupun bertanya
Untuk kau yang di sana masih ingatkah diriku?
Untuk kau yang di sana, masih adakah keberadaanku untukmu?
Ku masih bisa melihatnya
Meski ku terlelap tak biarkan
Mencari diriku sendiri
Hingga ku kembali dan terbangun dari mimpi
Lalu siapa yang 'kan menarikku kembali?
Untuk kau yang di sana masih ingatkah diriku?
Untuk kau yang di sana, masih adakah keberadaanku untukmu?
Jauh di sana
Adakah yang masih menyala
Dan mengapa semua seperti tak peduli
Tak mengenal empati
Jika nanti adakah yang kan sesali saat ku mati
Untuk kau yang di sana masih adakah diriku?
Untuk kau yang di sana masih ingatkah diriku?
Untuk kau yang di sana, masih adakah keberadaanku untukmu?
Apakah ini balasan untuk ku sedalam dosa ku di masa lalu
Seraya merintih maafkanlah aku ternyata aku tak sekuat itu
Untuk kau yang di sana masih ingatkah diriku?
Untuk kau yang di sana, masih adakah keberadaanku untukmu?
(Apakah ini balasan untuk ku sedalam dosa ku di masa lalu
Seraya merintih maafkanlah aku ternyata aku tak sekuat itu)
Makna Lagu uKYdS
Lirik lagu ini menggambarkan kondisi seseorang yang sedang berada di titik paling lelah dalam hidupnya. Pikirannya penuh, napas terasa berat, dan langkah terasa makin gelap, seolah ia berjalan sendirian tanpa ada yang benar-benar peduli atau bertanya kabarnya. Kalimat "dan tak satupun bertanya" jadi penegasan rasa sepi yang dalam, ketika seseorang merasa keberadaannya seperti tak terlihat oleh siapa pun.
Bagian "untuk kau yang di sana" terdengar seperti panggilan ke satu orang penting, bisa pasangan, sahabat, atau sosok yang dulu jadi tempat pulang. Ada keraguan besar di sana: apakah dirinya masih diingat, masih dianggap ada, atau sudah sepenuhnya terlupakan. Pertanyaan itu berulang, menandakan betapa besarnya kebutuhan akan pengakuan dan empati, sekaligus rasa takut kalau ternyata ia benar-benar sendirian.
Di bagian akhir, lagu ini berubah jadi refleksi dan pengakuan yang jujur. Ada rasa bersalah pada masa lalu, perasaan dihukum oleh keadaan, dan pengakuan bahwa dirinya tidak sekuat yang orang lain kira. Maknanya terasa sangat manusiawi: tentang orang yang sedang berjuang dengan dirinya sendiri, berharap masih ada cahaya yang menyala di kejauhan, dan diam-diam meminta maaf sambil berharap ada seseorang yang mau menariknya kembali sebelum semuanya terlambat.