Berkali-kali kau sebarkan agitasi
Kau tahu
Yang kau hujamkan dahulu
Sekencang lesat peluru
Kan berbalik memburu
Karena yang menunggu di sana
Kita tak tahu akhirnya
Apakah yang kau dengar kabar gembira?
Apakah yang kau lihat bernama karma?
Tak ada yang bisa menduga
Apa yang kau tanam pasti kau tuai juga
Kau tahu
Yang kau wariskan dahulu
Pekat luka di masa lalu
Kan berbalas pilu
Karena yang menunggu di sana
Kita tak tahu akhirnya
Apakah yang kau dengar kabar gembira?
Apakah yang kau lihat bernama karma?
On that Day people will proceed in separate groups to be shown the consequences of their deeds
So whoever does
An atom's weight of good
Will see it
And whoever does
An atom's weight of evil
Will see it
Saat waktunya tiba
Masihkah puas tertawa?
Saat waktunya tiba
Kami tak pеrnah bercanda
Karena yang menunggu di sana
Kita tak tahu akhirnya
Apakah yang kau dеngar kabar gembira?
Apakah yang kau lihat bernama karma?
On that Day the earth will recount everything
Makna Lagu Bernama Karma
Lirik lagu ini punya pesan yang cukup tajam tentang sebab dan akibat dari setiap perbuatan manusia. Di bagian awal, penyanyi seolah menegur seseorang yang selama ini merasa aman menikmati tindakannya, menyebarkan provokasi, menyakiti orang lain, tanpa memikirkan dampaknya. Diibaratkan seperti peluru yang dilepaskan dengan keras, semua perbuatan itu suatu saat akan berbalik mengejar pelakunya sendiri.
Masuk ke bagian tengah, lagu ini menegaskan konsep "apa yang kamu tanam, itu yang kamu tuai". Tidak ada yang benar-benar bisa lari dari konsekuensi, baik itu kebahagiaan maupun penderitaan. Luka yang diwariskan di masa lalu, entah berupa kebencian, fitnah, atau kejahatan, pada akhirnya akan dibayar dengan pilu. Pertanyaan tentang "kabar gembira atau karma" terasa seperti pengingat keras bahwa akhir dari perjalanan hidup setiap orang tidak pernah bisa ditebak.
Bagian lirik berbahasa Inggris dan penutup lagu memberi nuansa reflektif dan serius. Lagu ini mengingatkan bahwa akan ada hari di mana semua perbuatan, sekecil apa pun, akan diperlihatkan tanpa bisa disangkal. Saat momen itu datang, tidak ada lagi ruang untuk bercanda atau merasa kebal. Makna keseluruhannya mengajak pendengar untuk lebih hati-hati dalam bersikap, karena setiap tindakan punya jejak, dan pada waktunya, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.