Seorang wanita seumurku, duduk di sini sambil menangis
I oughta be stronger than I am
Seharusnya aku lebih kuat dari ini
Oughta take comfort in wisdom or something like that
Seharusnya bisa mendapatkan ketenangan dari kebijaksanaan atau semacamnya
But it isn’t that way, ‘cause sooner or later
Tapi kenyataannya tidak begitu, karena cepat atau lambat
I’m still that nervous 9th grader
Aku masih seperti siswa kelas sembilan yang gugup
Watching you pull us together, I never knew how
Melihatmu menyatukan kita, aku tak pernah tahu caranya
And since you’ve been gone I’m just fallin’ apart
Dan sejak kau pergi, aku hanya hancur berantakan
There’s a hole in my life, in my soul, in my heart
Ada kekosongan dalam hidupku, dalam jiwaku, dalam hatiku
And I stare out this window till light becomes dark
Dan aku menatap keluar jendela sampai cahaya menjadi gelap
And there’s nothing that’s touching me now
Dan tidak ada yang menyentuhku sekarang
But not to complain, we’re just bereft, not deserted
Tapi bukan untuk mengeluh, kami hanya kehilangan, bukan ditinggalkan
Lord knows you’re rest was deserved
Tuhan tahu istirahatmu memang pantas
It’s just your absence is present in all that I do
Hanya saja ketidakhadiranmu ada di setiap yang kulakukan
In the sun in the field, in the poem I keep saying
Di bawah sinar matahari di ladang, dalam puisi yang terus kuucapkan
In the hymn that some church bells were playing
Dalam lagu pujian yang dimainkan oleh lonceng gereja
You have always been part of them but I never knew
Kau selalu menjadi bagian dari semua itu, tapi aku tak pernah tahu
How could I ever begin to say?
Bagaimana aku bisa mulai mengatakannya?
Surely you already knew
Pasti kau sudah tahu
What is this world with you gone away?
Apa artinya dunia ini tanpa kehadiranmu?
How can this finally be true?
Bagaimana ini bisa menjadi kenyataan?