Kau adalah pohon pir yang keriput,
Near an Oak that binds your bitter roots.
Dekat dengan pohon ek yang mengikat akar pahitmu.
Beneath its living branches
Di bawah cabang-cabangnya yang hidup,
Fingers bend and ache with rotting fruit.
Jari-jari membengkok dan sakit dengan buah yang membusuk.
And I am sorry, sorry, sorry for my shade.
Dan aku minta maaf, minta maaf, minta maaf untuk bayanganku.
Uprooted to protect you.
Terpaksa dicabut untuk melindungimu.
Sorry, sorry, sorry for my shade.
Maaf, maaf, maaf untuk bayanganku.
What a stick figure I have made.
Betapa bodohnya aku membuat sosok seperti ini.
You are a bitter brother in the shadow of a twin.
Kau adalah saudara yang pahit dalam bayang-bayang kembaranmu.
Strangled in a warm embrace.
Tercekik dalam pelukan yang hangat.
You have grown up savage, mean and thin.
Kau tumbuh menjadi liar, jahat, dan kurus.
And I am sorry, sorry, sorry for my arms.
Dan aku minta maaf, minta maaf, minta maaf untuk tanganku.
I tried to protect you.
Aku berusaha melindungimu.
Sorry, sorry, sorry for my arms.
Maaf, maaf, maaf untuk tanganku.
I have darkened all of your charms.
Aku telah menggelapkan semua pesonamu.
You are a jack-o-lantern,
Kau adalah lampion labu,
Who woke up on a bitter winter morn.
Yang terbangun di pagi musim dingin yang pahit.
Your skin, soft and sallow.
Kulitmu, lembut dan pucat.
Your short season has now come and gone.
Musimmu yang singkat kini telah berlalu.
I am sorry, sorry, sorry the time.
Aku minta maaf, minta maaf, minta maaf untuk waktu ini.
Your ruined face, some reflection of love.
Wajahmu yang hancur, cerminan dari cinta.
Sorry, sorry, sorry for the time.
Maaf, maaf, maaf untuk waktu ini.
Your ruined face, perfect of mirror of love.
Wajahmu yang hancur, cermin cinta yang sempurna.