Berharap bisa menyentuhnya.
As we bleed to death.
Saat kita berdarah sampai mati.
As we have a shepherd we do not want.
Saat kita punya gembala yang tidak kita inginkan.
I run on a treadmill that never stops.
Aku berlari di atas treadmill yang tak pernah berhenti.
My reflection in the wading pool is dirty,
Citra diriku di kolam dangkal itu kotor,
and I'm sickened.
dan aku merasa mual.
It hurts.
Rasanya sakit.
I'm sick of repetition.
Aku muak dengan pengulangan.
An illness, spreading.
Sebuah penyakit, menyebar.
Blinding my eyes.
Membutakan mataku.
Erase my thoughts.
Hapus pikiranku.
Cancel my subscription to the things of this world.
Batalkan langgananku untuk hal-hal di dunia ini.
In the open eyes of deliverance.
Dalam tatapan terbuka dari pembebasan.
I'm color blind.
Aku buta warna.
Waiting to see.
Menunggu untuk melihat.
Wanting to finally say no and walk away with a smile.
Ingin akhirnya bilang tidak dan pergi dengan senyuman.
Time after time my call is game over;
Berulang kali panggilanku berakhir;
But again and again this cancer spreads.
Tapi berulang kali kanker ini menyebar.
Bleeding and spitting guilt and convictions.
Berdarah dan meludahkan rasa bersalah serta keyakinan.
As I lay in this pit of defeat...
Saat aku terbaring di lubang kekalahan ini...
(Once again to strive.)
(Sekali lagi untuk berjuang.)
To beat it out over and over.
Untuk mengalahkannya berulang kali.
So worn. I will defeat this.
Begitu lelah. Aku akan mengalahkan ini.
Worked over. With intention to kill.
Dikerjakan dengan niat untuk membunuh.
To watch Him die and smile.
Untuk melihat Dia mati dan tersenyum.
At His dismay. His pain.
Di atas kesedihannya. Rasa sakitnya.
My deliverance.
Pembebasanku.
My cleanliness a gift of freedom.
Kebersihanku adalah hadiah kebebasan.
My walk purified. My peace given by God.
Langkahku disucikan. Damai yang diberikan oleh Tuhan.