Setelah pertunjukan, kamu berjalan tepat di depan.
Arms reached out for your autograph.
Tangan-tangan menjulur minta tanda tanganmu.
And as you flashed your backstage pass.
Dan saat kamu menunjukkan pas backstage-mu.
I caught your eye with a camera's flash.
Aku menangkap tatapanmu dengan kilatan kamera.
When the band came out they stood behind you.
Ketika band keluar, mereka berdiri di belakangmu.
Cymbals crashed, the lights went blue.
Simbal berbenturan, lampu jadi biru.
You stood alone in the halo's haze.
Kamu berdiri sendiri dalam kabut cahaya.
Shinny guitar hung on gold lamay.
Gitar berkilau tergantung di kain emas.
And you, you were the lonely one.
Dan kamu, kamu adalah si kesepian.
You were the lonely one.
Kamu adalah si kesepian.
When you perform it's so intense.
Saat kamu tampil, itu sangat mendalam.
When the critics pan I write in your defense.
Saat kritikus mengkritik, aku membela kamu.
I understand I'm just a fan, I'm just a fan.
Aku paham, aku hanya seorang penggemar, hanya seorang penggemar.
When I get home I turn off the alarm.
Saat aku sampai di rumah, aku matikan alarm.
I've checked the phone, no messages on.
Aku cek ponsel, tidak ada pesan masuk.
I play the ones from yesterday.
Aku putar yang dari kemarin.
I play your song just to hear you say that....
Aku putar lagumu hanya untuk mendengar kamu berkata....
You, you're the lonely one.
Kamu, kamu adalah si kesepian.
You are the lonely one.
Kamu adalah si kesepian.
You, you're the lonely one.
Kamu, kamu adalah si kesepian.
You are the lonely one.
Kamu adalah si kesepian.