Kroso sepet kakehan cengkir
Atine judeg
Dadane sesek kakehan pikir
Ngalam ndunyo
Warno warno kahanane jarene
Mbiyen kondo
Nalikane perang gede
Bondo nyowo
Dilebokke negarane jarene
Mugo mugo
Gek enggalo bubar wae
Rujak timun
Delek delek terus ngelamun
Jarene gumun
Blanjane cupet nggo tuku sabun
Ngalam ndunyo
Warno warno kahanane jarene
Mbiyen opo
Saikine katon piye
Ati murko
Nggolek kono ngebut kene jarene
Tiwas diongso
Jebul ra ono mareme
Reff :
Kopi susu
Ilang kopine kari gelase
Awakke kuru
Pacare mlayu entek duwite
Ngalam ndunyo
Warno warno kahanane jarene
Ra di gagas
Papan omah kari pagere
Bondo blabas
Anak bojo ra di pikir butuhe
Yen ra mawas malah bubrah rumah tanggane
Yen ra mawas malah bubrah rumah tanggane
Makna di balik lagu 'Rujak Uleg'
Lagu ini menggambarkan berbagai persoalan hidup sehari-hari dengan gaya yang ringan, jenaka, dan penuh sindiran. Melalui perumpamaan seperti rujak yang terlalu banyak cengkir, kopi susu yang kopinya hilang, atau seseorang yang ditinggal pacar karena kehabisan uang, lagu ini menunjukkan bahwa kehidupan penuh dengan masalah dan keadaan yang tidak selalu berjalan sesuai harapan. Di balik lirik yang terdengar lucu, tersimpan gambaran tentang kesulitan ekonomi, beban pikiran, dan kekecewaan yang sering dialami banyak orang.
Makna utama lagu ini adalah ajakan untuk lebih bijak dalam menjalani hidup dan mengelola tanggung jawab. Bagian akhir lagu menyoroti orang yang terlalu mengejar kesenangan atau ambisi pribadi hingga melupakan kebutuhan keluarga. Pesannya jelas: jika seseorang tidak mawas diri dan tidak memikirkan akibat dari tindakannya, rumah tangga maupun kehidupannya bisa berantakan. Dengan balutan humor khas Jawa, lagu ini menyampaikan kritik sosial sekaligus nasihat agar tetap berpikir matang, bersyukur, dan menjaga keseimbangan dalam kehidupan.