Lirik ini vibes-nya mellow dan reflektif banget. Ceritanya tentang seseorang yang nemu buku harian lama di rak, terus kebawa nostalgia ke masa-masa dulu. Dari halaman pertama, dia kayak ditarik balik ke hari-hari awal yang penuh rasa asing, gugup, tapi juga penuh harapan. Hal-hal kecil yang dulu terasa spesial, udara pagi yang dingin, sinar matahari, sampai bunyi bel sekolah sekarang jadi kenangan yang bikin senyum tipis sambil mikir, "Kok dulu sesederhana itu ya rasanya?".
Masuk ke bagian tengah, dia mulai sadar kalau setiap momen baik yang bahagia maupun yang sedih cuma satu halaman kecil dari hidupnya. Ada cerita cinta pertama, deg-degan, sampai patah hati yang rasanya berat banget waktu itu. Tapi sekarang, semua itu cuma bagian dari proses tumbuh. Versi dirinya yang dulu mungkin polos dan kecil, tapi justru itu yang bikin perjalanan hidupnya terasa utuh. Dia jadi sadar tanpa terasa dirinya sudah banyak berubah.
Di akhir, pesannya makin hangat dan dewasa. Dia nggak lagi pengin muter waktu atau tenggelam di penyesalan. Buku harian yang dulu ditulis jadi semacam surat untuk diri sendiri di masa depan. Setiap halaman adalah pengingat kalau hari ini pun suatu saat bakal jadi kenangan. Jadi daripada terus lihat ke belakang, dia milih buat nulis cerita baru hari ini biar nanti saat dibuka lagi, dia bisa senyum bangga sama perjalanan hidupnya sendiri.