Lirik lagu ini nyeritain tentang seseorang yang lagi ada di fase paling nyesek setelah ditinggal orang yang dia sayang. Dulu, setiap momen bareng tuh terasa nempel banget di hati cara dia cerita, kebersamaan mereka, semuanya susah dilupain. Tapi sekarang? Semua itu cuma jadi kenangan. Yang harusnya masih ada, malah hilang tanpa pamit. Rasanya kayak ditinggal tanpa penjelasan, tanpa closure, dan itu bikin hati kosong banget.
Masuk ke bagian reff, kerasa banget kalau dia masih denial. Dia jujur ngaku kalau lagi merana, hatinya luka parah, bahkan sampai ngerasa "jiwanya gila" karena kehilangan itu. Dia masih stuck di titik yang sama, masih nungguin orang yang jelas-jelas udah nggak ada. Ini tuh fase di mana otak tahu semuanya udah selesai, tapi hati belum siap nerima. Makanya dia terus nanya, "sampai kapan aku terluka?" karena melupakan ternyata nggak semudah itu.
Di akhir lagu, ada sedikit harapan meski tetap sendu. Dia minta dikuatkan, sadar kalau dirinya lemah tanpa sosok itu. Dia cuma bisa berharap waktu dan kesabaran bisa jadi obat, walaupun cintanya nggak punya ujung yang bahagia. Intinya, lagu ini vibes-nya tentang kehilangan, susah move on, dan belajar nerima kalau kadang kita harus mencinta tanpa arah, tanpa balasan, tanpa kepastian, dan tanpa akhir yang kita mau.