Napasku bercampur dalam kegelapan kandang
as you attire me by a spoke of moon
saat kau menghiasiku dengan sinar bulan
Bridle across my face and bit between my teeth
Tali kekang melintang di wajahku dan besi di antara gigi
Through the mews a-crackle with frost,
Melalui lorong yang berderak oleh embun beku,
led by the reins down shadowy backlanes
dituntun oleh tali kekang di jalanan gelap
From the village still at-dream we fly,
Dari desa yang masih bermimpi kita terbang,
cow silhouettes and starlit molehills sailing by
silhouette sapi dan gundukan tanah bercahaya bintang melintas
Leaving behind a rose horizon frozen in place,
Meninggalkan cakrawala merah muda yang beku di tempatnya,
you lean forward in the saddle to embrace
kau membungkuk ke depan di pelana untuk berpelukan
I wonder if my lady knows there's no way back
Aku bertanya-tanya apakah putriku tahu tidak ada jalan kembali
to the world from which she was born? And that the only way out
ke dunia tempat dia dilahirkan? Dan satu-satunya jalan keluar
is forward and down?
adalah maju dan ke bawah?
Along weed burst motorways we tear
Di sepanjang jalan tol yang dipenuhi rumput liar kita melaju
past the tangle silence of our emptied cities
melewati keheningan kusut kota-kota yang kosong
Over unseen churning seas we go
Melintasi lautan yang berombak tak terlihat kita pergi
Never ending passage through the cold and dark
Perjalanan tanpa akhir melalui kegelapan dan dingin