Lirik lagu ini menggambarkan seseorang yang sudah berjuang tulus banget dalam sebuah hubungan, tapi justru nggak dihargai. Dia diibaratkan seperti orang yang merawat "kembang" sampai tumbuh indah, tapi ironisnya, dia sendiri malah jadi layu. Selama ini dia selalu ada di saat pasangannya sedih, nemenin di masa sulit, bahkan berusaha bikin pasangannya bahagia. Tapi kenyataannya pahit, orang yang dia perjuangkan malah bahagia sama orang lain.
Di sisi lain, lagu ini juga nunjukin rasa kecewa yang dalam karena usahanya terasa sia-sia. Si tokoh ngerasa dianggap nggak penting, cuma dicari saat dibutuhkan, tapi ditinggal begitu aja tanpa penjelasan. Bahkan ada rasa "aku ini sebenarnya siapa sih buat kamu?" karena diperlakukan kayak opsi, bukan prioritas. Ditambah lagi, perpisahan yang tiba-tiba tanpa komunikasi bikin luka makin dalam, seolah semua kenangan bareng nggak berarti apa-apa.
Akhirnya, lagu ini terasa seperti curhatan tentang cinta yang nggak seimbang, satu pihak berjuang habis-habisan, sementara yang lain dengan mudah melupakan. Ada juga rasa kalah sebelum benar-benar berjuang, karena dari awal memang nggak pernah dianggap. Pesannya cukup relate: sebaik apa pun kita memperjuangkan seseorang, kalau dia nggak punya perasaan yang sama, kita tetap bisa kehilangan, dan itu yang paling nyesek.