Lirik lagu ini terasa seperti curhat jujur tentang hubungan yang berantakan, penuh kenangan liar, dan rasa bersalah yang datang belakangan. Hubungan yang diceritakan bukan tipe pertemanan sehat, tapi lebih ke dua orang yang sama-sama rusak dan terhubung lewat luka yang mirip. Mereka bukan sahabat sejati, cuma dua orang bodoh yang pernah berbagi rasa sakit di titik yang sama. Dari situ muncul penyesalan, karena si aku baru sadar betapa berat hidup orang yang ia ceritakan, sementara dulu ia terlalu sibuk pura-pura semuanya baik-baik saja.
Bagian "I hope you settle down" terdengar manis di permukaan, tapi sebenarnya penuh rasa iba dan doa yang canggung. Si aku berharap orang itu bisa hidup tenang, takut pada hal-hal normal seperti manusia kebanyakan, bukan terus dihantui rasa bersalah, iman, atau ketakutan soal jiwa dan dosa. Ada kritik halus soal tekanan moral dan religius yang bikin seseorang menyimpan luka sendirian, sampai akhirnya menjauh ke "tempat”"yang si aku sendiri tidak cukup berani untuk datangi.
Secara keseluruhan, lagu ini ngomongin penyesalan yang datang terlambat, tentang memahami seseorang justru setelah ia pergi. Ada rasa kehilangan, empati yang tumbuh pelan-pelan, dan harapan tulus agar orang itu bisa hidup lebih bebas dan jujur, bahkan kalau itu berarti menghancurkan simbol-simbol lama yang mengekangnya. Lagu ini terasa pahit, dewasa, dan emosional, seperti surat yang tak pernah benar-benar dikirim, tapi terus dipikirkan setiap waktu.