“Dan aku akan membangun ini atas namanya.”
The dream will not allow failure,
“Mimpi ini tidak akan membiarkan kegagalan,”
only servitude, for I am its slave."
“hanya pengabdian, karena aku adalah budaknya.”
Foreboding fear trickles down the spine
“Ketakutan yang mengerikan merayap di tulang punggung”
Into the pool, resonating
“Masuk ke kolam, bergema”
Behind the wall the dreamer lies in velvet sleep
“Di balik dinding, si pemimpi terbaring dalam tidur lembut”
She must be still, never make a sound
“Dia harus diam, jangan pernah bersuara”
Awake....... awaken the dreamer
“Bangun....... bangunkan si pemimpi”
Awake....... awaken
“Bangun....... bangun”
Awake....... awaken the dreamer
“Bangun....... bangunkan si pemimpi”
Awake....... where are you my love?
“Bangun....... di mana kau, cintaku?”
We build our walls around our games
“Kita membangun tembok di sekitar permainan kita”
We decompose, dreamers never really die
“Kita terurai, si pemimpi tidak pernah benar-benar mati”
She lies unknown, the cenotaph in her name
“Dia terbaring tak dikenal, cenotaph atas namanya”
Awake....... awaken the dreamer
“Bangun....... bangunkan si pemimpi”
Awake....... awaken
“Bangun....... bangun”
Awake....... awaken the dreamer
“Bangun....... bangunkan si pemimpi”
Awake....... where are you my love?
“Bangun....... di mana kau, cintaku?”
She lies unknown
“Dia terbaring tak dikenal”
She lies unknown
“Dia terbaring tak dikenal”
She lies unknown
“Dia terbaring tak dikenal”
She lies unknown
“Dia terbaring tak dikenal”
She hides
“Dia bersembunyi”