Lirik lagu ini ngebahas kerasnya hidup di tengah sistem yang nggak ramah buat orang biasa. Keinginan sederhana kayak punya rumah dan mobil aja terasa makin jauh karena harga terus naik dan nilai uang makin turun. Sementara itu, ada sosok yang digambarkan sebagai "Greed", simbol keserakahan yang hidup terang-terangan, tampil mewah, dielu-elukan, padahal cara mainnya kotor. Lagu ini kayak sindiran buat realita sosial, di mana yang kuat makin kuat dan yang lain cuma bisa kerja keras tanpa jaminan hasil setimpal.
Masuk ke bagian pre-chorus dan chorus, keserakahan dipersonifikasikan sebagai pencuri terbesar sepanjang masa. Bukan sembunyi-sembunyi, tapi jalan santai di depan mata semua orang. Dari tanah sampai laut, semua diambil demi mahkota dan kuasa. Lalu di verse kedua, fokusnya bergeser ke "Envy", rasa iri yang lahir karena terus-terusan dibandingkan dan merasa kurang. Iri hati ini nggak kalah bahaya, karena bikin seseorang pengin punya semua yang dilihat, bukan karena butuh, tapi karena merasa kosong.
Di bagian outro, lagu ini makin jelas arahnya. Tujuh dosa besar disebut satu per satu sebagai peringatan. Bukan cuma greed dan envy, tapi juga lust, pride, gluttony, sloth, dan wrath. Pesannya simpel tapi dalam, jangan biarin sifat-sifat itu masuk dan nguasain diri, karena ujungnya cuma bakal ngerusak. Lagu ini bukan cuma kritik sosial, tapi juga refleksi personal tentang gimana gampangnya manusia kejebak ambisi, iri, dan nafsu kalau nggak hati-hati.