Lagu ini menggambarkan seseorang yang sebenarnya sudah mencoba move on dan bahkan punya pasangan baru yang baik. Hidupnya juga terlihat semakin sukses, mulai dari punya pencapaian karier sampai menikmati kehidupan yang dulu hanya bisa dia impikan. Namun, di balik semua itu, dia masih belum bisa sepenuhnya melupakan mantan yang pernah menemaninya berjuang dari nol. Bukan karena hubungan barunya buruk, melainkan karena kenangan bersama mantannya terasa terlalu berharga untuk digantikan.
Bagian yang paling menyentuh ada ketika ia menyadari bahwa yang dirindukan bukan kemewahan atau keseruan hidup saat ini, melainkan momen-momen sederhana yang pernah mereka lalui bersama. Ia merindukan perjalanan tanpa tujuan, obrolan santai, dan masa ketika mereka sama-sama membangun mimpi. Rasa sakit terbesar bukan hanya karena hubungan itu berakhir, tetapi karena mereka sudah begitu dekat dengan kehidupan yang mereka bayangkan bersama, lalu pada akhirnya harus menjalaninya secara terpisah.
Melalui kalimat "If it was up to me", lagu ini menunjukkan penyesalan dan harapan yang tak pernah benar-benar hilang. Jika semuanya berada dalam kendalinya, dia pasti akan tetap bersama mantannya, menghindari semua pertengkaran, dan menjaga hubungan itu agar tetap utuh. Namun kenyataannya, cinta tidak selalu bisa dipertahankan oleh satu orang saja. Pada akhirnya, lagu ini bercerita tentang menerima bahwa ada hal-hal dalam hidup yang tidak bisa kita kendalikan, termasuk kehilangan seseorang yang masih kita cintai.