Lagu ini menggambarkan situasi masyarakat pada saat penjajahan Jepang yang identik dengan kesengsaraan, ketabahan, dan harapan. Meriam Tomong sendiri lebih bersifat simbolis untuk menyampaikan pesan, bukan tokoh nyata. Makna liriknya berkaitan dengan penderitaan rakyat akibat kerja paksa atau romusha dan tekanan hidup yang berat.
Lagu ini menggunakan bahasa sederhana dan irama ceria sebagai cara menyamarkan kritik agar tidak terlalu mencolok di hadapan penjajah. Salah satu potongan lirik yang dikenal adalah: “Tangis ahu malungun hu ingot ma si Poriban” yang memperlihatkan kedekatan emosional sekaligus situasi yang menyedihkan. Lagu ini juga memiliki arti sebagai bentuk perlawanan secara halus melalui seni dan budaya pada masa itu.