Lagu ini nunjukin sisi reflektif dan spiritual dari J. Cole. Di balik kesuksesan dan kekayaan yang dia punya sekarang, dia tetap sadar kalau hidup di lingkungan keras penuh narkoba, kekerasan, dan polisi razia itu bukan hal yang bisa dianggap remeh. Banyak temannya tumbang, banyak yang masuk penjara, dan kematian terasa kayak berita biasa. Reff "I pray the Lord watch" nunjukin kalau di tengah chaos itu, dia cuma bisa berharap Tuhan terus jagain dia. Bahkan meski sekarang “punya banyak”, rasa takut dan trauma masa lalu tetap nempel.
Verse kedua makin dalem karena ngebahas temannya yang lagi hadapin kasus hukum serius. Di situ kelihatan banget realita pahit: keluarga berantakan, anak yang masih kecil, tekanan finansial, dan masa depan yang nggak jelas. Lagu ini bukan cuma soal street life, tapi juga tentang konsekuensi dari pilihan hidup dan gimana satu kesalahan bisa ngubah segalanya. Di tengah semua itu, ada momen spiritual ketika temannya mulai balik cari Tuhan, dengerin lagu gospel, dan berharap masih ada jalan keluar.
Secara keseluruhan, makna lagu ini adalah rasa syukur dan ketergantungan sama Tuhan di tengah kerasnya hidup. Kolaborasi dengan Marvin Sapp lewat potongan "Never Would Have Made It" bikin vibe-nya makin emosional, seolah jadi pengakuan bahwa tanpa campur tangan Tuhan, mereka mungkin nggak akan selamat sampai sekarang. Ini bukan lagu flexing, tapi lebih ke pengingat: sukses nggak bikin lo kebal dari realita, dan iman kadang jadi satu-satunya pegangan.