Lagu ini ngebahas tentang jatuh, gagal, dan patah hati sebagai bagian normal dari hidup. Di verse awal, digambarin kayak lagi nabrak tembok dan harus bersihin pecahan kacanya sendiri. Rasanya malu, kecewa, bahkan kayak jadi karakter yang "mati duluan" di film hidup sendiri. Orang-orang bilang kamu terlalu baper atau terlalu dalam ngerasain sesuatu, tapi ya memang begitulah rasanya kalau lagi cinta.
Masuk ke chorus, pesannya jadi lebih hangat dan dewasa. Buat bisa cinta, pasti ada risiko buat terluka dan kehilangan. Tapi justru itu bukti kalau kita manusia. Lebih baik pernah ngerasain cinta walau akhirnya sakit, daripada nggak pernah ngerasain sama sekali. Ada penerimaan bahwa semua memang bisa hancur, tapi pada akhirnya juga bisa sembuh.
Di verse berikutnya, dia bangkit pelan-pelan. Walau habis kena "pukulan," hidup tetap jalan dan bumi tetap muter. Mau nggak mau harus berdiri lagi dan lanjut. Intinya, lagu ini kayak reminder kalau ngerasain semuanya secara intens itu bukan kelemahan. Cinta, luka, dan kehilangan itu satu paket, dan itu yang bikin hidup terasa nyata.