Terdengar isak tangis, hati k'luargamu hancur
Bergegas kauikuti konvoi ke liang lahat
Berkumpul di tempat terakhir beristirahat
Tanah terbuka dan bumi menganga
Melihatnya kau sadar uang hanya sementara
Lihat petimu dibalut duka dan lara
Dan beberapa berharap kau masuk neraka (hei!)
Siapa yang akan datang ke pemakamanmu nanti?
Siapa yang dalam diam berharap kau 'tuk cepat mati?
Tetangga dan teman mana yang terpukul
Pasti hadir, lihat peti, dan tawarkan memikul
Akankah kucing kompleksmu sedih kau t'lah tiada?
Cukup baikkah kau ke yang tidak punya kuasa?
Selesaikah semua ikatanmu di dunia?
Apa kalimat terakhirmu untuk yang kaucinta?
Tanah terbuka dan bumi menganga
Melihatnya kau sadar hidup hanya sengsara
Lepas dari penjara fisik, langit bergema
Sekarang namamu diuji kematian kedua
Oh, hidup hanya sengsara
Siapa yang akan datang ke pemakamanmu nanti?
Siapa yang dalam diam berharap kau 'tuk cepat mati?
Siapa yang akan datang ke pemakamanmu nanti?
Hu-uh-uh-uh-uh
Makna Siapa Yang Akan Datang Ke Pemakamanmu Nanti? - Hindia
Lagu "Siapa yang Akan Datang ke Pemakamanmu Nanti?" dari Hindia mengajak pendengarnya merenungkan arti hidup lewat sudut pandang kematian. Sejak awal, suasana duka langsung terasa lewat lirik "Tanah terbuka dan bumi menganga" yang menggambarkan momen seseorang dimakamkan. Di titik itu, semua hal yang selama ini dianggap penting seperti harta atau jabatan tiba-tiba kehilangan maknanya, sesuai dengan lirik "Melihatnya kau sadar uang hanya sementara". Lagu ini mengingatkan bahwa pada akhirnya, yang tersisa bukanlah apa yang kita miliki, tetapi bagaimana kita memperlakukan orang lain selama hidup.
Bagian paling kuat ada pada pertanyaan "Siapa yang akan datang ke pemakamanmu nanti?" dan "Siapa yang dalam diam berharap kau 'tuk cepat mati?". Pertanyaan itu bukan untuk menakut-nakuti, melainkan mengajak kita mengevaluasi hubungan dengan orang-orang di sekitar. Lirik "Cukup baikkah kau ke yang tidak punya kuasa?" juga menjadi pengingat bahwa karakter seseorang justru terlihat dari cara ia memperlakukan mereka yang tidak bisa memberinya keuntungan. Pada akhirnya, lagu ini menyampaikan bahwa warisan terbesar seseorang bukanlah kekayaan atau popularitas, melainkan kenangan dan kebaikan yang membuat orang lain benar-benar merasa kehilangan saat ia telah tiada.