G...
C...
C...
H...
H...
G C H
Hi, have you ever wondered what it would be like to listen to some music?
Hai, pernahkah kamu bertanya-tanya bagaimana rasanya mendengarkan musik?
Well this is your big chance.
Nah, ini adalah kesempatan besarmu.
You see, music is much like a brochetted butterfly,
Kamu lihat, musik itu seperti kupu-kupu yang terjepit,
with a shadowy prominade of effervescence,
dengan jalan setapak yang bayang-bayang penuh gelembung,
yet sloos down the bottom of misty moutains of darkness.
namun melambat di dasar pegunungan gelap yang berkabut.
Like a flirtatious flounder upon a non-reflecting mirror.
Seperti ikan flounder yang genit di atas cermin yang tidak memantulkan.
God, what is this opaque window of comfort, that we cannot overcome?
Tuhan, apa jendela nyaman yang buram ini, yang tidak bisa kita atasi?
It is a manifestation of love.
Ini adalah perwujudan cinta.
It a forest of emptiness and it is an ocean with no water except where that which fills it.
Ini adalah hutan kosong dan lautan tanpa air kecuali yang mengisinya.
So as you listen to this masterpiece release yourself from the prison of captivity and let your soul free.
Jadi saat kamu mendengarkan karya agung ini, bebaskan dirimu dari penjara belenggu dan biarkan jiwamu bebas.
Because only a free soul can be captured by greedy soul thieves.
Karena hanya jiwa yang bebas yang bisa ditangkap oleh pencuri jiwa yang serakah.
Who will have sold it to Leprechaun gold miners.
Yang akan menjualnya kepada penambang emas Leprechaun.
But it is only when your soul is taken away, that you can take it back.
Namun hanya ketika jiwamu diambil, kamu bisa mengambilnya kembali.
And this my friend, does not make any sense whatsoever, or does it, no it does not.
Dan ini, temanku, sama sekali tidak masuk akal, atau iya, tidak sama sekali.
Ladies and Gentlemen I give you The Papercut Chronicles.
Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya, saya persembahkan untuk kalian The Papercut Chronicles.