Lirik lagu ini bercerita tentang sebuah hubungan yang awalnya penuh harapan, mimpi, dan rencana indah tentang masa depan. Ada bayangan tujuan bersama, kenangan yang ingin diabadikan, bahkan obrolan soal rumah dan hari tua. Tapi semua itu perlahan runtuh ketika salah satu pihak justru menyalakan "bara di balik terang", simbol dari keputusan atau sikap yang menyakiti dan meninggalkan luka dalam. Harapan yang tadinya terasa hangat berubah jadi perih yang susah disembuhkan.
Bagian "satu per satu menjadi abu" menggambarkan bagaimana kenangan, janji, dan rasa percaya hancur pelan pelan. Hubungan yang dulu utuh kini hanya sisa sisa, bahkan nama yang dulu begitu berarti akhirnya memilih untuk tidak lagi disebut, apalagi disimpan dalam lagu. Ini jadi bentuk penerimaan pahit bahwa tidak semua cerita harus diperjuangkan sampai akhir, meski pernah terasa sangat nyata.
Di bagian akhir, liriknya seperti sebuah pertanyaan reflektif dan teguran. Tentang sampai kapan seseorang mau memeluk luka, mempertahankan rasa sakit, dan memuja perih yang justru menggerogoti diri sendiri. Lagu ini terasa sebagai proses berdamai, melepaskan, dan memilih berhenti menyebut nama yang sudah tak lagi punya tempat, demi bisa melangkah tanpa beban yang sama.