Lagu ini ngerangkum perasaan capek mental dan kebingungan yang pelan-pelan numpuk di kepala. Tokohnya kebangun di malam hari, kepikiran banyak hal, tapi nggak nemu jalan keluar. Ada rasa pengin kabur dari fase hidup yang berat, tapi ke mana pun lari rasanya tetap kejebak di situ-situ aja. Kalimat kayak "I don’t know anymore" nunjukin titik lelah, saat seseorang udah bingung nentuin mana yang benar atau salah, dan cuma pengin ada yang nolongin atau ngasih pegangan.
Bagian reff-nya kuat banget soal realita pahit. Seindah apa pun masa lalu, semuanya nggak bakal balik sama persis. Ada kesadaran kalau perubahan itu nggak bisa dihindari, dan itu nyakitin. Mau bertahan sakit, mau pergi juga nggak punya tempat buat pulang. Tapi di tengah rasa sakit itu, masih ada secuil harapan, keyakinan kecil bahwa keadaan ini nggak akan selamanya begini, meskipun buat sekarang rasanya berat banget buat dijalanin.
Di bagian akhir, lagu ini makin jujur dan rapuh. Ada pengakuan kalau ternyata hidup bisa "sebiru" ini, penuh luka yang datang berkali-kali sampai rasanya lebam secara emosional. Tapi justru dari situ keliatan sisi manusiawinya, butuh diselamatkan, butuh dimengerti, dan butuh waktu. Intinya, lagu ini cocok banget buat kamu yang lagi di fase jatuh, ngerasa sendirian, dan pelan-pelan belajar nerima kalau nggak semua hal bisa kembali seperti dulu.