HOME » LIRIK LAGU » E » EBIET G. ADE » LIRIK LAGU EBIET G. ADE
  • Profil
  • Berita
  • Foto
  • Berita Foto
  • Video
  • Lirik
  • Wallpaper

Jakarta II
oleh: Ebiet G. Ade

X

TIPS PENCARIAN LIRIK FAVORIT ANDA

ANDA MENGETAHUI JUDUL DAN NAMA PENYANYI

  • Ketikkan nama penyanyi dan judul lagu, berikan tanda kutip di judul lagu, misal: Yovie "Menjaga Hati";
  • bila tidak berhasil, coba untuk mengilangkan tanda kutip, misal: Yovie Menjaga Hati; atau
  • dapat juga dengan mengeklik menu A B C D.., lalu cari berdasarkan nama artis. Yovie dimulai dengan Y, klik Y. Lihat daftar lagu, dan dapatkan yang Anda cari.

ANDA TAK MENGETAHUI JUDUL LAGU, TAPI MENGETAHUI NAMA PENYANYI

  • Ketik nama penyanyi, misal: YOVIE, akan muncul banyak halaman, telusuri dan pilih dari halaman-halaman tersebut; atau
  • klik menu A B C D E ... berdasarkan nama artis Y, cari Yovie, dan cari lirik yang Anda cari.

ANDA TAK MENGETAHUI JUDUL LAGU, TAPI MENGETAHUI SYAIR

  • Ketikkan penggalan syair yang Anda ketahui, misal:
    Tanpamu tiada berarti
    Tak mampu lagi berdiri
    Cahaya kasihmu menuntunku
    Kembali dalam dekapan tanganmu
  • Masukkan kata-kata penting. Misal: tiada berarti berdiri cahaya dekapan.
  • Hindari kata-kata yang berkemungkinan memiliki ada dua versi atau lebih. Misal: tanpamu dapat ditulis tanpa mu.

TETAP TIDAK DAPAT MENEMUKAN LIRIK YANG ANDA CARI

  • Pilih menu A B C D E ... berdasarkan nama artis atau judul lagu.
  • Bila masih tidak dapat menemukan lirik yang Anda cari, mungkin kami bisa membantu Anda. Silakan menghubungi kami.
Ada yang difikirkan sebelum tertidurAnaknya yang mungil dan bermata jernihAda yang disesali kenapa berangkatTinggalkan kampung halaman yang ramah tamah
Dikenang kembali wajah bulat telur istrinyadengan lengan yang legam dan rambut kemerahan terbakar matahariSeperti didengar lagi gerit daun pintu bambu,lenguh sapi perahan, dan anak-anak angsa bermain di halaman
Apa yang dibayangkan tentang Jakartaternyata sangatlah jauh berbedaApa yang diimpikan terpaksa ditanggalkanSemangatnya yang membara perlahan padam
Kini ia tidur terlentang di pinggiran jalanBerselimut sarung tua bekal dari kerabatnya yang masih tersisaIngin ditulis sepucuk surat buat istrinyabahwa di Jakarta ini bukanlah tempat yang ramahdan dia ingin kembali
Tapi sebagai lelaki ia pantang menyerahMeski badai melanda ia terus melangkahAda sepotong doa tersimpan di sakuKenangan merah jingga memaksanya bertahan